Minggu, 26 Oktober 2014

Peringati Sumpah Pemuda, Komunitas Hijabers Blitar Bagi - bagi 100 Hijab





Blitar (26/10) - Jelang  Peringatan  Sumpah Pemuda yang akan diperingati pada hari Senin 28 Oktober 2014 salah satu komunitas hijabers Blitar menggelar acara 100 hijab. Acara yang digelar di Taman Kota Kebonrojo, Minggu (26/10/2014) tersebut selain memeriahkan hari Sumpah Pemuda dan tahun baru hijriyah, komunitas hijabers juga ingin memperkenalkan hijab kepada masyarakat. Acara tersebut berlangsung meriah. Peserta yang hadir berasal dari warga yang tengah berkunjung ke Kebonrojo.

Panitia memberikan hijab gratis sekaligus mendandani pengunjung di lokasi yang telah disiapkan. Acara tersebut bertemakan pakaian adat sehingga hijab yang dikenakan pun masih nuansa pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya membagi- bagikan, panitia juga siap mendandani pengunjung yang mau berhijab.
“Kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan yang insyAllah akan kami laksanakan tiap tahun”, kata Andiwi ketua pelaksana.
 “Acara ini adalah acara yang positif dan mengajak untuk kebaikan”, sambung Andiwi.

Acara tersebut berhasil memikat warga Kebonrejo, terbukti dengan peserta banyak yang mengantre. Kursi yang disediakan pantiapun penuh. Salah satu peserta, Setyaningrum mengaku senang dengan acara tersebut, meskipun selama ini ia belum mengenakan hijab dalam keseharian tetapi ia merasa senang dengan acara tersebut. Senada dengan Setyaningrum, Dwi Putri Amira juga mengatakan hal yang sama. “Saya sudah mempunyai niat untuk berhijab. InsyAllah setelah ini saya semakin mantap untuk terus berhijab”, ujar Amira.


Kamis, 23 Oktober 2014

Foto Caption Jurnalistik

Nah, masih seputar jurnalis. Sekarang saya akan belajar membuat caption dari sebuah foto. Mulai aja dari foto pertama aja?

Semangat- Band indie PENS (EEPIS Reggae) tampil di Kegiatan Jalan Sehat dan Festival Seni PTC yang diadakan oleh BEM-PENS  pada hari Minggu (8/6). Band asli PENS ini semangat menghibur pengunjung dengan lagunya yang digelar di kampus PENS.


Sumringah- Wajah sumringah dari pedagang tua yang menjajakan kacang rebus jualannya. Penjual itu melayani pembeli yang memilih dagangannya di teras Taman Bungkul Surabaya, Sabtu (31/5).  


Kasih sayang- Seorang kakak memakaikan celana adeknya dengan kasih sayang. Sabtu (31/5) sehabis asyik bermain air mancur di Taman Bungkul Surabaya seorang anak dibantu kakaknya untuk mengenakan celana. Dengan memegang tangan kakaknya perlahan anak kecil itu memasukkan satu persatu kakinya di celana.


Perjuangan- Kamis (5/6) seorang pemulung tua renta menyebrang jalan raya di depan Bank BI Surabaya. Pemulung laki-laki itu membawa karung berisi barang bekas yang digendong di punggungnya. Dengan hati-hati pemulung tua itu menyeberang keramaian jalan.


Ceria- Kegiatan jalan sehat dan festival seni PTC yang diadakan oleh BEM-PENS di kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada hari Minggu (8/6) berhasil membuat bahagia para pengunjung yang datang. Terbukti dengan bocah kecil yang ceria saat memainkan balon yang dipegangnya.





Kamis, 09 Oktober 2014

Seorang Dosen Bukan Sebuah Beban

"Selama ini saya menjadi dosen saya jalani bukan saya anggap kerja tetapi seperti main", ucap dosen muda yang sudah 3 tahun menjadi dosen prodi Multimedia Broadcasting saat diwawancarai kemarin (9/10). Ibu muda yang sering dipanggil Ibu Widi ini merupakan dosen yang mengajarkan mata kuliah Drawing dan Metodologi Desain pada mahasiswa tingkat satu. 

Saat ditanya mengenai pengalaman menyenangkan selama menjadi dosen, dosen lulusan DKV-ITS ini menjawab "pengalaman yang menyenangkan sih banyak, terutama sama teman - teman dosen banyak guyon jadi tidak seperti kerja tapi seperti main". Sedangkan pengalama menyedihkan ucapnya "awal saya kerja disini memang belum tau tentang habitnya seperti apa. Beberapa dosen lain dan mahasiswanya bilang kalau saya itu sombong dan cuek" selain itu dalam wawancara bu Widi juga mengungkapkan pernah saat beliau masuk ruang kelas masih ada mahasiswanya yang ramai, mungkin karena bu Widi yang masih muda sehingga mahasiswa menganggap bu Widi sebagai teman berdiskusi. 

"saya memang pada saat perkuliahan menggunakan metode penyampaian yang tidak terlalu banyak teori karena dari mata kuliah saya tidak cocok jika diterapkan dengan banyak teori, saya sendiri juga tidak suka yang namanya menghafal teori" kata bu Widi.

Meskipun awalnya menjadi dosen bukanlah cita - citanya, melainkan tuntutan dari ibunya tetapi bu Widi tetap menjalaninya tanpa beban. Hal itulah yang membuat beliau bertahan hingga saat ini.