“Selalu ada yang berkesan dari setiap
kali pertama. Seperti hari ini: saat kali pertama aku menginjakkan kali di
kampus impian –kali pertama aku menatapmu”
Buku Tuhan
Maha Romantis adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian
mencari sosok misterius bernama kak Nisa, kakak tingkat Rijal yang dengan sabar
dan telaten memberikan informasi untuk mahasiswa baru Sastra Indonesia
di Universitas Indonesia itu. Namun ada sosok lain yang seketika membuat Rizal terlupa
dengan senior misterius. Dia adalah seorang perempuan berjilbab panjang merah
dan mengenakan baju putih pelantun puisi. Dan saat itu hati Rijal resmi
tertawan.
Benarkah ini
jebakan cinta (?) kak Laras si pelantun puisi itu terlihat berbeda dari panita
OSPEK lainnya yang memasang wajah menyeramkan tapi senyum manis kak Laras tak
bisa terlepas dari pandangan Rijal. Bumi lantas terhenti! Angin berhembus lebih
pelan. Hati Rijal, untuk kesekian kalinya tertawan.
Perjalanan panjang
Rijal yang semakin sering berkomunikasi dengan kak Laras karena perannya
sebagai pembaca puisi dalam acara Petang Puisi hingga pemberian buah kiwi
kepada kak Laras dan sebuah janji tiket liburan ke tempat berjulukan The Youngest Country on Earth, New
Zealand.
Rizal ingat
pesan dari bapaknya bahwa mencintai itu bukan cuma soal rasa suka atau
ketertarikan. Bukan hanya soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah
keputusan. Bahkan keputusan yang besar. Memang jatuh cinta dengan lawan jenis
adalah hal yang fitrah bagi setiap manusia, apalagi saat itu umur Rijal yang
berumur tujuh belas tahun. Teringat akan sabda Rosulullah SAW “Tidak ada yang lebih layak bagi dua orang
yang saling mencintai kecuali pernikahan”.
Sepeninggal
kepergian Laras, datang sosok perempuan yang membuat jatuh hati ibu Rijal dan
dipaksanya untuk menikahi perempuan bernama Aira itu. Persiapan pernikahan mulai
dipersiapkan Rijal perlahan –lahan membungkus memori tentang kak Laras dan
membuka hati kepada Aira. Namun istikharah memang tak melulu dijawab dengan
mimpi setelah mendapat restu dari sang
ibu dan kelapangan hati Aira karena hati tidak bisa dipaksakan. Rijal mengurus
kepergiannya ke Selandia Baru untuk menemui Laras. Rijal yakin karena Allah
akan memberinya petunjuk untuk jalannya yang terbaik dan Tuhan Maha Romantis
mempertemukan mereka berdua dalam ikatan suci.
Tapi itulah
cinta, ia memang kata kerja dan bukan kata benda. Maka ia terus bergerak tak
kenal henti. Ia ditakdirkan menjadi kata yang begitu berkarakter, penuh daya
dobrak tapi tetap saja sulit untu didefinisikan. Karena memang Tuhan Maha Romantis!
8 MARET 2014
RIJAL RAFSANJANI & ANNISA
LARASATY MENIKAH....

