Di utara kota Tulungagung
terdapat desa Ngujang. Desa tersebut menurut saya berbeda dari desa- desa yang
ada di Tulungagung. Karena terdapat ratusan monyet hidup di area kuburan. Area
pesugihan ‘kethek’ berada di kompleks
pemakaman umum, di sebelah selatan Sungai Brantas, tepatnya di sisi utara Desa
Ngujang. Di tempat tersebut, terdapat dua makam umum di sisi kiri dan kanan.
Kedua makam itu saling berhadap-hadapan dan hanya dipisah jalan raya.
Daerah Ngujang sering digunakan
sebagai tempat pemujaan ritual ngipri
monyet. Menurut dari cerita yang saya dengar pesugihan di Ngujang tersebut
sering dilakukan oleh orang- orang yang mencari kekayaan dengan cara yang tidak
halal, misalnya saja mereka- mereka yang ingin usaha berdagangnya laris. Namun untuk
mendapatkan hal tersebut sang pemuja terlebih dahulu haruslah mengikuti
perjanjian- perjanjian khusus yang harus dipenuhi sebagai mas kawin. Misalnya saja
sang pemuja harus bersedia menjadi penghuni makam Ngujang dan berkumpul bersama
kethek-kethek yang ada di sana ketika meninggal. Pada saat hidup sang pemuja
juga wajib memberi tumbal kepada mahkluk ghaib yang menguasai makam Ngujang. Biasanya
yang menjadi tumbal adalah dari keluarganya sendiri.
Namun, dari sejarah yang menyebar
di masyarakat Tulungagung. Kethek – kethek yang ada di makam Ngujang tersebut
adalah perwujudan sang pemuja pesugihan yang sudah meninggal, termasuk wujud
tumbal yang pernah dijadikan persembahan sang pemuja semasa hidupnya.
Ngujang tidak hanya terkenal
dengan daerah ‘pengiprian monyet’ namun
disana juga dikenal sebagai lokalisasi atau komplek para pekerja seks komersial (PSK). Mungkin itu
adalah salah satu alasan daerah Tulungagung masih kental mengenai tradisi dan
adat Jawa.
Jangan jadikan hal diatas sebagai
pemahaman kalau kota Tulungagung adalah kota yang penuh dengan mistis tetapi
jadikanlah sebagai penambahan wawasan. Semoga bermanfaat…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar