Kamis, 25 Desember 2014

Naskah Berita Voice Over (VO) - Masjid Cheng Hoo Surabaya




 KEUNIKAN MASJID CHENG HOO SURABAYA

LEAD : BERBEDA DENGAN MASJID MASJID BIASANYA / MASJID CHENG HOO SURABAYA / MENYUGUHKAN KEUNIKAN SENDIRI / DENGAN MODEL BANGUNAN DAN ORNAMEN ORNAMEN YANG KENTAL DENGAN NUANSA TIONGHOA//

ROLL VO : MASJID CHENG HOO SURABAYA YANG BERLOKASI DI JALAN GADING / NO 2 SURABAYA / ATAU UTARA GEDUNG BALAIKOTA SURABAYA/ MEMANG DIBANGUN MENYERUPAI KELENTENG DENGAN NUANSA MUSLIM TIONGHOA//

TUBUH BERITA : MASJID YANG DIRESMIKAN PADA TANGGAL 13 OKTOBER 2002 AWALNYA DIDIRIKAN UNTUK MENGENANG PERJUANGAN DAN DAKWAH LAKSAMANA CHENG HOO DAN WARGA TIONGHOA MUSLIM YANG INGIN MEMILIKI SEBUAH MASJID DENGAN GAYA TIONGHOA// MASJID INI MEMILIKI BANGUNAN UNIK/ BENTUKNYA SERUPA DENGAN KLENTENG/ DIDOMINASI DENGAN WARNA MERAH DAN KUNING/ DIPADUKANA DENGAN ORNAMEN KHAS TIONGKOK// PINTU MASUKNYA MENYERUPAI BENTUK PAGODA/ TERDAPAT JUGA RELIEF NAGA/ DAN PATUNG SINGA DARI LILIN /DENGAN LAFAL ALLAH DALAM HURUF ARAB/ DI PUCUK PAGODA//ORNAMEN LAIN TERLETAK PADA / SEBELAH KANAN DILOKASI WUDHU WANITA/ ADA RELIEF CHENG HOO DENGAN LATAR GAMBAR BEBUAH BATU BERBENTUK KAPAL//TIDAK ADA SALAHNYA ANDA MENGISI WAKTU LIBURAN ANDA DENGAN MENJELAJAH TEMPAT BERIBADAH UNIK SEPERTI MASJID CHENG HOO YANG BERADA DI SURABAYA TERSEBUT///END


Rabu, 17 Desember 2014

Review film In Join Van Jou

Film ke dua dari pemutaran film karya anak MMK adalah berjudul Ik Houd Van Jou, film ini menjadi pusat penonton. Betapa tidak, film yang berbeda dari film yang diputar sebelumnya dari judulnya saja penonton bertanya tanya apa arti dari judul film tersebut, film tersebut menggunakan penggabungan efek dengan cerita yang dikemas menarik.
Film yang menceritakaan tentang perebutan cinta antar dua pasukan tentara yakni Sugiyo (Rifandi Bimasakti) , Sugiyat (Resa Rizky) dan gadis desa yakni Lasmi (Luthfie Triana) mengusung gandre cinta. Film yang artinya “I Love You”  ini dikemas dalam suasana masa Belanda. Sugiyo yang harus menerima pahitnya keadaan karena wanita yang dicintainya (Lasmi) yang sudah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri (Sugiyat). Dan saat itulah hubungan 2 sahabat tersebut menjadi retak, apa lagi Sugiyo yang memiliki sifat keras dan tidak terima dengan keadaan tersebut mencari berbagai cara untuk merebut kembali Lasmi dari Sugiyat.
Hingga akhirnya Sugiyat mati dibunuh Sugiyo , dan Sugiyo pula dibunuh dengan Lasmi. Lasmi sebenarnya menyukai Sugiyat dan Sugiyo, hingga pada akhirnya Lasmi yang hidup sendiri di masa tuanya dengan kenangan cintanya dengan Sugiyat dan Sugiyo.
Menurut saya film Ik Houd Van Jou ini bagus, baik dari permainan alur, efek darah, dan pengambilan gambarnya. Hanya saja ada beberapa hal kecil yang mengganjal dalam film tersebut, misalnya saat Sugiyat di tampar dengan pistol oleh Sugiyo yang awalnya berdarah pada mulutnya tiba tiba mulut Sugiyat langsung bersih. Namun dari pembawaan alurnya bagus, penonton dibuat bermain dengan alur yang dibuat. Penggunaan make up juga bagus, saat Lasmi tua di make up menyerupai orang tua dengan kerutan pada wajahnya membuat nilai tambah dalam fil tersebut.

Minggu, 26 Oktober 2014

Peringati Sumpah Pemuda, Komunitas Hijabers Blitar Bagi - bagi 100 Hijab





Blitar (26/10) - Jelang  Peringatan  Sumpah Pemuda yang akan diperingati pada hari Senin 28 Oktober 2014 salah satu komunitas hijabers Blitar menggelar acara 100 hijab. Acara yang digelar di Taman Kota Kebonrojo, Minggu (26/10/2014) tersebut selain memeriahkan hari Sumpah Pemuda dan tahun baru hijriyah, komunitas hijabers juga ingin memperkenalkan hijab kepada masyarakat. Acara tersebut berlangsung meriah. Peserta yang hadir berasal dari warga yang tengah berkunjung ke Kebonrojo.

Panitia memberikan hijab gratis sekaligus mendandani pengunjung di lokasi yang telah disiapkan. Acara tersebut bertemakan pakaian adat sehingga hijab yang dikenakan pun masih nuansa pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya membagi- bagikan, panitia juga siap mendandani pengunjung yang mau berhijab.
“Kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan yang insyAllah akan kami laksanakan tiap tahun”, kata Andiwi ketua pelaksana.
 “Acara ini adalah acara yang positif dan mengajak untuk kebaikan”, sambung Andiwi.

Acara tersebut berhasil memikat warga Kebonrejo, terbukti dengan peserta banyak yang mengantre. Kursi yang disediakan pantiapun penuh. Salah satu peserta, Setyaningrum mengaku senang dengan acara tersebut, meskipun selama ini ia belum mengenakan hijab dalam keseharian tetapi ia merasa senang dengan acara tersebut. Senada dengan Setyaningrum, Dwi Putri Amira juga mengatakan hal yang sama. “Saya sudah mempunyai niat untuk berhijab. InsyAllah setelah ini saya semakin mantap untuk terus berhijab”, ujar Amira.


Kamis, 23 Oktober 2014

Foto Caption Jurnalistik

Nah, masih seputar jurnalis. Sekarang saya akan belajar membuat caption dari sebuah foto. Mulai aja dari foto pertama aja?

Semangat- Band indie PENS (EEPIS Reggae) tampil di Kegiatan Jalan Sehat dan Festival Seni PTC yang diadakan oleh BEM-PENS  pada hari Minggu (8/6). Band asli PENS ini semangat menghibur pengunjung dengan lagunya yang digelar di kampus PENS.


Sumringah- Wajah sumringah dari pedagang tua yang menjajakan kacang rebus jualannya. Penjual itu melayani pembeli yang memilih dagangannya di teras Taman Bungkul Surabaya, Sabtu (31/5).  


Kasih sayang- Seorang kakak memakaikan celana adeknya dengan kasih sayang. Sabtu (31/5) sehabis asyik bermain air mancur di Taman Bungkul Surabaya seorang anak dibantu kakaknya untuk mengenakan celana. Dengan memegang tangan kakaknya perlahan anak kecil itu memasukkan satu persatu kakinya di celana.


Perjuangan- Kamis (5/6) seorang pemulung tua renta menyebrang jalan raya di depan Bank BI Surabaya. Pemulung laki-laki itu membawa karung berisi barang bekas yang digendong di punggungnya. Dengan hati-hati pemulung tua itu menyeberang keramaian jalan.


Ceria- Kegiatan jalan sehat dan festival seni PTC yang diadakan oleh BEM-PENS di kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada hari Minggu (8/6) berhasil membuat bahagia para pengunjung yang datang. Terbukti dengan bocah kecil yang ceria saat memainkan balon yang dipegangnya.





Kamis, 09 Oktober 2014

Seorang Dosen Bukan Sebuah Beban

"Selama ini saya menjadi dosen saya jalani bukan saya anggap kerja tetapi seperti main", ucap dosen muda yang sudah 3 tahun menjadi dosen prodi Multimedia Broadcasting saat diwawancarai kemarin (9/10). Ibu muda yang sering dipanggil Ibu Widi ini merupakan dosen yang mengajarkan mata kuliah Drawing dan Metodologi Desain pada mahasiswa tingkat satu. 

Saat ditanya mengenai pengalaman menyenangkan selama menjadi dosen, dosen lulusan DKV-ITS ini menjawab "pengalaman yang menyenangkan sih banyak, terutama sama teman - teman dosen banyak guyon jadi tidak seperti kerja tapi seperti main". Sedangkan pengalama menyedihkan ucapnya "awal saya kerja disini memang belum tau tentang habitnya seperti apa. Beberapa dosen lain dan mahasiswanya bilang kalau saya itu sombong dan cuek" selain itu dalam wawancara bu Widi juga mengungkapkan pernah saat beliau masuk ruang kelas masih ada mahasiswanya yang ramai, mungkin karena bu Widi yang masih muda sehingga mahasiswa menganggap bu Widi sebagai teman berdiskusi. 

"saya memang pada saat perkuliahan menggunakan metode penyampaian yang tidak terlalu banyak teori karena dari mata kuliah saya tidak cocok jika diterapkan dengan banyak teori, saya sendiri juga tidak suka yang namanya menghafal teori" kata bu Widi.

Meskipun awalnya menjadi dosen bukanlah cita - citanya, melainkan tuntutan dari ibunya tetapi bu Widi tetap menjalaninya tanpa beban. Hal itulah yang membuat beliau bertahan hingga saat ini.


Selasa, 30 September 2014

Delapan Anak Jalanan Surabaya Tampil di Brazil

Surabaya (26/2), delapan anak jalanan bimbingan Sanggar Alang – Alang Surabaya bakal membela Negara Indonesia untuk beradu dalam Piala Dunia 2014 yang akan terselenggara di Brazil pada bulan Juni mendatang. Acara tersebut menyelenggarakan pertandingan sepak bola yang memang khusus untuk anak – anak jalanan. 
 
Delapan anak dari Sanggar Alang - Alang yang akan berangkat ke Brasil yakni Muhamad Ayub, Muhamad Malik, Siti Nur Qomariah, Muhamad Yasidur Rozaq, Eko Siswandi, Rizqi Rahmadi, Muhamad Mukti, serta Yusuf Eko Saputro. Siti Nur Qomariah menjadi satu-satunya anak perempuan yang berangkat ke Brazil.
  
“Anak-anak ini memberi inspirasi bahwa kalau mereka mau, ya mereka bisa. Tidak ada yang tidak mungkin”,  kata Wali Kota Surabaya Tri Risma hari ini di ruang kerjanya, Selasa, 25 Februari 2014.
Wali kota perempuan di Surabaya  tersebut mengaku bangga dengan prestasi  anak- anak jalanan. Pasalnya, anak jalanan Surabaya tidak sepenuhnya jadi sampah masyarakat namun mereka buktikan jika mereka mampu mengharumkan nama Surabaya. Beliau berharap anak - anak  mampu berprestasi maksimal dalam pertandingan di Brazil. Tuturnya, yang terpenting bukanlah soal menang dan kalah, namun dapat mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia, khususnya Kota Surabaya.

“Perjuangan mereka bukan hal yang mudah, mereka terpilih setelah menyingkirkan 70 peserta yang mendaftar”, ujar Pengasuh Sanggar Alang – Alang, Didit Hape. Setelah pengumuman lolos pada tanggal 4 Februari lalu, pengasuh sanggar  langsung mengkarantina mereka. Harapannya,  dari kedelapan anak – anak tersebut dapat mengompakkan dirinya, dengan mencoba teknik pendekatan etika, norma, dan agama. Karena anak jalanan yang identik dengan dunianya yang keras dan bebas.

Mereka akan bergabung dengan anak-anak jalanan lain dari kota-kota di Indonesia yang akan membentuk tim sepak bola putra dan tim sepak bola putri dalam pertandingan Piala Dunia 2014 pada Juni mendatang.

Senin, 29 September 2014

Pemujaan Kera di desa Ngujang Tulungagung


Di utara kota Tulungagung terdapat desa Ngujang. Desa tersebut menurut saya berbeda dari desa- desa yang ada di Tulungagung. Karena terdapat ratusan monyet hidup di area kuburan. Area pesugihan ‘kethek’  berada di kompleks pemakaman umum, di sebelah selatan Sungai Brantas, tepatnya di sisi utara Desa Ngujang. Di tempat tersebut, terdapat dua makam umum di sisi kiri dan kanan. Kedua makam itu saling berhadap-hadapan dan hanya dipisah jalan raya.
Daerah Ngujang sering digunakan sebagai tempat pemujaan ritual ngipri monyet. Menurut dari cerita yang saya dengar pesugihan di Ngujang tersebut sering dilakukan oleh orang- orang yang mencari kekayaan dengan cara yang tidak halal, misalnya saja mereka- mereka yang ingin usaha berdagangnya laris. Namun untuk mendapatkan hal tersebut sang pemuja terlebih dahulu haruslah mengikuti perjanjian- perjanjian khusus yang harus dipenuhi sebagai mas kawin. Misalnya saja sang pemuja harus bersedia menjadi penghuni makam Ngujang dan berkumpul bersama kethek-kethek yang ada di sana ketika meninggal. Pada saat hidup sang pemuja juga wajib memberi tumbal kepada mahkluk ghaib yang menguasai makam Ngujang. Biasanya yang menjadi tumbal adalah dari keluarganya sendiri.
Namun, dari sejarah yang menyebar di masyarakat Tulungagung. Kethek – kethek yang ada di makam Ngujang tersebut adalah perwujudan sang pemuja pesugihan yang sudah meninggal, termasuk wujud tumbal yang pernah dijadikan persembahan sang pemuja semasa hidupnya.
Ngujang tidak hanya terkenal dengan daerah ‘pengiprian monyet’ namun disana juga dikenal sebagai lokalisasi atau komplek  para pekerja seks komersial (PSK). Mungkin itu adalah salah satu alasan daerah Tulungagung masih kental mengenai tradisi dan adat Jawa.
Jangan jadikan hal diatas sebagai pemahaman kalau kota Tulungagung adalah kota yang penuh dengan mistis tetapi jadikanlah sebagai penambahan wawasan. Semoga bermanfaat…